Tugas Mata Kuliah Inovasi Pembelajaran Sains (Telaah Jurnal Nasional) " PEMBELAJARAN SAINS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0"
TUGAS MATA KULIAH
INOVASI PEMBELAJARN SAINS
DOSEN PENGAMPUH
Dr. Amiruddin Kade, M.Si
TELAAH JURNAL NASIONAL
(Ditinjau Dari Inovasi Pembelajaran)
|
Oleh :
DEDI PRASOJO
A 202 19 006
|
TELAAH JURNAL NASIONAL
|
JUDUL
|
PEMBELAJARAN
SAINS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
|
|
PENULIS
|
Yuyu Yuliati dan
Dudu Suhandi Saputra
|
|
TAHUN
|
2019
|
|
NAMA JURNAL
|
Jurnal Cakrawala
Pendas (JCP)
|
|
PENERBIT JURNAL
|
JCP Media Publikasi
pada Bidang Pendidikan Dasar Universitas Majalengka
|
|
PEMAKNAAN SINGKAT
|
Setelah membaca jurnal
tersebut, hakikatnya
sains dibangun
atas dasar produk ilmiah, proses
ilmiah, sikap ilmiah,
dan aplikasi. Sains sebagai produk merupakan pengetahuan yang
terdiri dari konsep, prinsip, hukum, dan
teori. Proses sains
terdiri dari keterampilan- keterampilan proses untuk mendapatkan dan
mengembangkan sains.
Sikap ilmiah
merupakan
nilai karakter.
Sedangkan aplikasi sains merupakan penerapan konsep
sains yang bersifat abstrak dalam bentuk konkrit yang berupa teknologi. Antara sains
dan teknologi merupakan dua hal
yang saling terkait satu
dengan yang lain karena sains secara
umum
merupakan pengetahuan yang
didapatkan dengan cara sistematis tentang struktur dan
perilaku dari segala fenomena yang ada di alam beserta isinya. Sedangkan
teknologi merupakan
aplikasi dari sains
sebagai respons
atas tuntutan
manusia
akan
kehidupan yang
lebih baik. Sains dan teknologi dapat
berkembang melalui kegiatan
penemuan dengan berbagai
bentuk inovasi dan
rekayasa. Pada era revolusi industri 4.0 perkembangan sains akan mendorong pada
perkembangan
teknologi yang
menjadi salah
satu basis dari hampir
seluruh kegiatan manusia.
Pembelajaran sains
menghendaki
siswa untuk terlibat langsung secara
aktif yang terimplikasikan dalam kegiatan secara fisik
ataupun mental. Berdasarkan penjelasan tersebut,
artinya bahwa
pembelajaran sains tidak hanya mencakup
aktivitas hands on tetapi
juga minds on dalam mencari berbagai informasi terkait dengan berbagai
fenomena alam melalui berbagai
metode ilmiah. sumber daya manusia yang unggul, baik secara soft skill maupun hard
skill. Sains memiliki peranan
dalam mendorong
peserta
didik untuk mampu mengaplikasikan
pemahamannya
akan sains dalam
menghasilkan suatu karya teknologi
yang bermanfaat
dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia,
hal tersebut
mengingat karena
teknogi merupakan aplikasi dari sains. Melalui sains
peserta didik berlatih mengembangkan
kemampuan berpikir sistematis, logis,
dan kritis selanjutnya
melalui sains peserta
didik juga dilatih untuk melakukan penemuan dan rekayasa
dengan menerapkan berbagai langkah kerja ilmiah.
|
PEMBELAJARAN SAINS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Yuyu Yuliati 1, Dudu Suhandi Saputra 2
1Universitas Majalengka, 2 Universitas Majalengka
Abstrak
Era revolusi industri 4.0 membawa konsekuensi
terhadap
pendidikan sains
untuk mampu mempersiapkan individu yang memiliki kompetensi
mumpuni dalam
menghadapi berbagai tantangan
di masa depan
dengan mengaplikasikan kemajuan teknologi pada
kegiatan pembelajaran.
Kajian ini memberikan gambaran terhadap peranan pembelajaran
sains di era revolusi industri 4.0. Hasil kajian menunjukan bahwa sains berkaitan erat dengan
teknologi, selanjutnya bahwa sains memiliki
peranan yang sangat
besar dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, baik secara soft skill maupun hard
skill. Sains memiliki peranan dalam mendorong peserta didik
untuk mampu mengaplikasikan
pemahamannya
akan sains dalam
menghasilkan suatu karya teknologi
yang bermanfaat
dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia,
hal tersebut mengingat karena
teknogi
merupakan aplikasi dari sains. Melalui sains peserta didik berlatih mengembangkan
kemampuan berpikir sistematis, logis,
dan kritis selanjutnya
melalui sains peserta didik
juga dilatih untuk melakukan penemuan dan rekayasa
dengan menerapkan berbagai langkah kerja ilmiah.
.
Kata Kunci: Pembelajaran sains, revolusi industry 4.0
Abstract

The era of industrial revolution 4.0 brought consequences for science education to be able to prepare
individuals who have qualified competencies in facing various challenges in the future by applying
technological advances in learning activities. This study provides an overview of the role of science
learning in the era of industrial revolution 4.0. The results
of
the study show
that science is closely related to technology, science has a very large role in preparing superior human resources, both soft skills
and hard skills. Science has a role
in encouraging students
to be able
to apply their understanding of science to produce a technological work that is useful in meeting the needs of human life, this is because technology
is an
application of science. Through science students practice developing the ability to think systematically, logically, and critically then through
science students are also trained
to make discoveries and engineering by applying various steps of scientific work.
Key Words: Science Education, Industrial Revolution 4.0
Pendahuluan
Pesatnya
kemajuan teknologi
informasi, komunikasi dan semakin
kompleksnya tantangan masa depan
menandai era
baru yang disebut dengan era revolusi industri 4.0. Pada
era ini, teknologi
informasi telah
menjadi basis dalam kehidupan manusia. Hal ini memberikan konsekuensi dan dampak yang
nyata pada bidang pendidikan sains yang mana pendidikan sains
harus didasarkan pada
kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan yang
ada di masa depan
melalui pemanfaatan teknologi.
Pendidikan sains memiliki
peranan
untuk menghasilkan
sumber daya
manusia
yang
inovatif dan
memiliki kompetensi
unggul baik secara soft skill
maupun hard skill sehingga dapat
disejajarkan bahkan mampu
bersaing
dengan sumber daya manusia dari negara
lain dalam menghadapi berbagai isu-isu
global. Hal ini senada dengan pendapat Kanematsu & Barry bahwa
menyiapkan lulusan yang berkualitas dan mampu
bersaing secara global,
dan menguasai perkembangan teknologi merupakan hal yang
penting
untuk semua orang dan
penting bagi
masa depan suatu Negara
(Subekti, H.,dkk,
2018). Sains sendiri
merupakan salah satu ilmu
pengetahuan yang memiliki peranan
penting dalam kehidupan manusia yaitu ilmu pengetahuan
yang mempelajari
alam semesta dan segala isinya serta
berbagai perubahan yang terjadi
di dalamnya.
Pada
hakikatnya
sains dibangun
atas dasar produk ilmiah, proses
ilmiah,
sikap ilmiah, dan aplikasi. Sains
sebagai produk merupakan pengetahuan yang
terdiri dari konsep,
prinsip, hukum, dan teori. Proses sains terdiri
dari
keterampilan- keterampilan proses untuk mendapatkan dan
mengembangkan sains.
Sikap ilmiah
merupakan
nilai
karakter. Sedangkan aplikasi sains merupakan
penerapan konsep sains
yang bersifat abstrak dalam bentuk
konkrit yang
berupa teknologi. Antara sains
dan teknologi merupakan dua hal yang saling terkait satu dengan yang lain karena sains secara
umum
merupakan pengetahuan yang
didapatkan dengan cara sistematis tentang struktur dan perilaku dari
segala fenomena yang ada di
alam beserta isinya. Sedangkan teknologi merupakan
aplikasi dari sains
sebagai
respons atas tuntutan
manusia
akan
kehidupan yang
lebih baik. Sains dan teknologi dapat
berkembang
melalui kegiatan penemuan dengan berbagai bentuk inovasi dan
rekayasa. Pada era revolusi industri 4.0 perkembangan sains akan mendorong pada
perkembangan teknologi yang
menjadi salah
satu basis dari hampir seluruh
kegiatan manusia.
Pembelajaran sains
menghendaki
siswa untuk terlibat langsung secara
aktif yang terimplikasikan dalam kegiatan secara
fisik ataupun mental. Berdasarkan penjelasan tersebut,
artinya bahwa pembelajaran sains tidak hanya mencakup
aktivitas hands on tetapi
juga
minds on dalam mencari berbagai informasi terkait dengan berbagai
fenomena alam melalui berbagai
metode ilmiah.
Di
tingkat SD/MI pembelajaran sains
menekankan pada pembelajaran
Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi,
dan masyarakat) yang diarahkan pada
pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya
melalui penerapan
konsep sains dan
kompetensi bekerja ilmiah
secara bijaksana, dengan begitu melalui pemahaman sains
yang didapat peserta didik dapat menyelesaikan
berbagai permasalahan
yang dialami
dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya masih terdapat permasalahan dalam
pembelajaran sains yang masih belum terselesaikan diantaranya
yaitu untuk aspek konteks aplikasi sains terbukti hampir dapat
dipastikan bahwa banyak peserta
didik
tidak mampu mengaitkan pengetahuan sains yang dipelajarinya
dengan fenomena-
fenomena yang terjadi di kehidupan sehari- hari, karena peserta
didik tidak memperoleh
pengalaman untuk mengkaitkannya
(Permatasari, 2016). Hal
ini
dikhawatirkan
akan berdampak pada kualitas peserta didik
secara keseluruhan yang mana pada akhirnya peserta didik akan mengalami
kesulitan dalam bersaing dengan
sumber daya manusia dari negara
lain dalam menghadapi
berbagai isu-isu
global. Tulisan ini berisi pembahasan terkait peranan sains di era revolusi industry 4.0. Kajian
ini merupakan kajian
konseptual
menggunakan studi literatur yang
bersumber dari berbagai literatur
terkait.
.
Pembahasan
Era
revolusi industri 4.0 merupakan masa yang penuh dengan persaingan. Era
dimana kehidupan
manusia selalu
berhubungan dengan
teknologi dan informasi.
Pada era revolusi industri
4.0, 75% pekerjaan melibatkan
kemampuan sains,
teknologi, teknik
dan matematika,
internet of things (IoT), dan
pembelajaran sepanjang
hayat (Zimmerman, 2018). Secara umum
ada
lima tantangan besar yang akan dihadapi pada era ini yaitu aspek pengetahuan, teknologi, ekonomi, social,
dan politik (Zhou.
dkk, 2015). Untuk
menghadapi tantangan
tersebut sumber daya manusia harus memiliki berbagai
kompetensi antara lain melek sains, melek
teknologi, mampu berpikir kritis,
mamapu bekerjasama, kreatif dan inovatif, serta
memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Menurut Ghiffar, dkk (2018) kemampuan berpikir kritis sangat penting dikuasai karena
perkembangan zaman yang semakin
pesat dan kompleks menuntut manusia untuk terus
berpikir dan menyelesaikan
permasalahan. Dengan
demikian proses
berpikir kritis sangat diperlukan untuk menyelesaikan
permasalahan yang dialami
dalam kehidupannya sehari-hari.
Selanjutnya menurut Sudira keterampilan yang
juga penting dimiliki oleh
peserta didik dalam menghadapi era
revolusi
industri 4.0 adalah keterampilan
berkomunikasi baik
dalam bahasa lisan atau tertulis melalui
berbagai media
(Mintasih, 2018).
Revolusi industry 4.0 mendorong
munculnya istilah
pendidikan 4.0 yaitu istilah yang merujuk
pada
pemanfaatan
teknologi
digital dalam proses pembelajaran
secara optimal (Wiyono, K. &Zakiyah, S.,2019). Menurut
Almeida
(2019) education4.0 builds
on the concept
of learning by doing,
in which students are encouraged to learn and
discover differentthings
in singular ways based
on
experimentation.
Selain itu personalisasi
dan fleksibilitas
merupakan penciri dari pendidikan
4.0, hal ini sesuai
dengan pendapat Bartolomé et
al. (2018), two
fundamental characteristics of education
4.0 is
the personalization
and
flexibility.
In this sense, adaptive learning
systems play a fundamental role in the education 4.0 paradigm. Pendidikan 4.0 penghendaki beberapa
hal diantaranya pembelajaran dikembangkan sesuai dengan kebutuhan siswa, pendidikan bukanlah transfer pengetahuan,
dan pentingnya optimalisasi teknologi dalam pembelajaran. Berdasarkan
beberapa penjelasan tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 perlunya pembenahan
pada bidang pendidikan
melalui peningkatan kualitas pembelajaran tak
terkecuali pada pendidikan sains.
Sains
di era revolusi industri 4.0 berperan dalam mendorong
peserta didik untuk mampu mengaplikasikan
pemahamannya akan
sains untuk menghasilkan suatu
karya teknologi yang bermanfaat dalam pemenuhan kebutuhan
hidup
manusia,
hal tersebut mengingat
karena teknogi merupakan aplikasi dari
sains. Ini sependapat
dengan pernyataan Bryan et al. (2016) The engineering design
or engineering practices related to relevant
technologies
requires the use of scientific and
mathematical concepts through design
justification. Melalui sains peserta didik berlatih
mengembangkan
kemampuan berpikir secara
sistematis, logis, dan kritis. Selanjutnya melalui sains peserta didik juga
dilatih untuk terus berinovasi melakukan penemuan dan rekayasa dengan
menerapkan berbagai langkah kerja ilmiah. Engineering requires the use of scientific and
mathematical concepts to address the types of
ill- structured
and open-ended problems that occur in
the real world (Sheppard et al., 2009), penggunaan pemahaman sains
dalam kegiatan rekayasa teknologi diperuntukan untuk menentukan upaya terhadap
penyelesaian masalah.
Pada aplikasi di
lapangan,
peningkatan kualitas pembelajaran sains
merupakan salah satu
tantangan bagi
pendidik karena dihadapkan
pada tantangan bagaimana
menyiapkan sumber daya manusia
yang adaptif terhadap perkembangan zaman
yaitu SDM yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di mana
teknologi informasi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan
manusia
saat ini.
Segala hal menjadi tanpa batas
dengan penggunaan
daya komputasi dan data yang tidak
terbatas, karena
dipengaruhi oleh
perkembangan
teknologi digital yang
massif.
Harus disadari
bahwa perkembangan teknologi digital
yang semakin luas
dapat dengan cepat merubah pola pikir, namun harus
menjadi perhatian bahwa
walaupun segala hal
telah berbasis
teknologi yang harus diperhatikan pada
pembelajaran di era
digital ini bukan
tentang digitalnya
melainkan bagaimana
membentuk pola pikir
dan kebiasaan berpikir, dengan demikian pembelajaran
sains memiliki konsekuensi untuk
senantiasa mengembangkan kemampuan berpikir peserta
didik dalam setiap langkah pembelajarannya
melalui pemanfaatan teknologi. Selanjutnya, semakin pesatnya
perkembangan
teknologi
digital selain memberikan dampak positif juga
dapat memberikan dampak negative
pada nilai yang dimiliki oleh peserta didik sehingga penanaman
terhadap nilai-nilai
pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri bagi
pendidikan sains di era
ini.
Seorang pendidik dalam mengimplementasikan
pembelajaran sains
tidak cukup hanya sebatas
melakukan transfer pengetahuan saja
melainkan perlu melakukan perubahan pola
pembelajaran
yang lebih menitik
beratkan
pada penggunaan teknologi dan menekankan
pada siswa dalam
menemukan dan menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan bermanfaat
dalam mengatasi permasalahan
lingkungan. Hal ini karena ada begitu banyak kompetensi yang harus
dimiliki oleh peserta didik untuk hidup di lingkungan masyarakat
yang tidak bisa hanya didapat
melalui transfer ilmu
saja.
Pada
implemetasi
pembelajaran sains di era
pendidikan 4.0 penerapan pembelajaran STEM merupakan
salah alternative karena
dapat melatih siswa
dalam menerapkan pengetahuannya untuk
membuat
desain sebagai bentuk pemecahan masalah terkait lingkungan melalui memanfaatkan teknologi, sehingga dapat dikatakan bahwa melalui pembelajaran STEM peserta didik dilatih untuk
dapat melek sains dan teknologi. STEM education,
which provides the integration of disciplines of science, technology,
engineering
and
mathematics, is an innovative approach
and supports the upbringing of
science and technology literate individuals (Erdogan, I & Ciftci, A.,2017). Pembelajaran STEM juga
dapat melatih kemandirian siswa serta
dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
dan prestasi siswa dalam proses belajarnya, ini sesuai
dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh
stohlmann et al. bahwa research shows that integrated STEM
education can
make learning more relevant and meaningful for students, STEM can
improve students’ attitudes toward STEM subjects,
improve higher level
thinking skills, and increase
achievement (E.
H. M. Shahali et al., 2016).
Kesimpulan
Dalam menghadapi revolusi industry 4.0
pendidikan sains memiliki peran
penting dalam menghasilkan sumberdaya
manusia yang
unggul baik secara soft
skill
maupun hard skill
dan adaptif, melalui
pemahamannya akan
konsep sains
dan
pemanfaatan teknologi
peserta didik
diarahkan untuk menghasilkan karya untuk menyelesaikan
permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar
Pustaka
Almaeda, F. (2019). The Role of Serious
Games, Gamificationand Industry 4.0
Tools in the Education 4.0
Paradigm. Contemporary Educational Technology, 10(2),120-136.
Bartolomé, A., Castañeda, L., &
Adell, J. (2018). Personalisation in educational technology: The absence of underlying pedagogies.
International Journal
of Educational
Technology in Higher
Education, 15(14), 1-17.
Bryan, L. A., Moore, J. T., Johnson, C. C.,&
Roehrig, G. H. (2016).
Integrated STEM Education. In Johnson, C. C, Peters-Burton, E. E., &
Moore, T. J.
(Ed.), STEM Road Map: A Framework
for
Integrated STEM Education (pp.23-37). New York
& London: Routledge,
Taylor & Francis Group.
E. H. M. Shahali et al. (2016). STEM
learning through
engineering
design: Impact on
middle
secondary
student’s interest
toward STEM. EURASIA Journal
of Mathematics Science and Technology Education,13(5), 1189-1211.
Erdogan, I & Ciftci, A.
(2017). Investigating the Views of Pre-Service Science Teachers on STEM
Education Practices. International
Journal of Environmental and Science Education, 12(5),1055-1065.
Ghiffar, dkk. (2018). Model pembelajaran berbasis blended learning dalam
meningkatkan critical
thinking
skills
untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Prosiding
Seminar
Nasional Pendidikan
2018, 85-94. STKIP Andi
Matappa Pangkep.
Mintasih,
D. (2018). Mengembangkan
literasi informasi
melalui belajar
berbasis kehidupan
terintegrasi PBL
untuk
menyiapkan calon pendidik dalam menghadapi
era
revolusi industri
4.0.
Elementary islamic
teacher journal, 6(2),
271-290.
Permatasari, A. (2016).
STEM Education:
Inovasi dalam Pembelajaran
Sains. Seminar Nasional Pendidikan
Sains (SNPS), 23-34. Semarang:
Universitas Sebelas Maret.
Sheppard, S. D, Macantangay, K., Colby,
A. & Sullivan, W.
M. (2009). Educating engineers: Designing
for the future
of the
field. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
Subekti,
H., dkk. (2018). Mengembangkan
literasi informasi
melalui belajar
berbasis kehidupan terintegrasi stem
untuk
menyiapkan calon guru
sains dalam menghadapi
era
revolusi industri 4.0: revieu literatur.
Education and Human Development
Journal,
3(1),
81-90.
Wiyono, K.
&Zakiyah,
S. (2019). Pendidikan
Fisika Pada Era Revolusi
Industri 4.0
Di Indonesia.
Seminar nasional
Pendidikan program studi pendidikan fisika, 1-14. Banjarmasin:
FKIP
ULM.
Zhou, K., Taigang L., & Lifeng, Z. (2015). Industry 4.0: Towards future
industrial opportunities and
challenges. In Fuzzy Systems and
Knowledge Discovery (FSKD).
IEEE 12th
International Conference, 2147-2152.

Comments
Post a Comment