URGENSI
KURIKULUM PENDIDIKAN KEBENCANAAN
BERBASIS
KEARIFAN LOKAL DI PALU
Tulisan
ini menjelaskan urgensi kurikulum pendidikan kebencanaan berbasis kearifan
lokal di Palu. Untuk maksud tersebut penulis menggunakan metode kepustakaan.
Sebagai negara yang memiliki potensi bencana sangat besar, Kota Palu perlu
menerapkan kurikulum kebencanaan di lembaga-lembaga pendidikan agar peserta
didik memiliki pengetahuan dan wawasan tentang kebencanaan. Pendidikan kebencanaan
ini memiliki tujuan umum untuk memberikan gambaran dan acuan dalam proses
pembelajaran siaga bencana. Melalui pendidikan diharapkan peserta didik mampu
berpikir dan bertindak cepat, tepat, dan akurat saat menghadapi bencana. Sikap
empati terhadap korban bencana juga dapat dibangun agar peserta didik dapat
membantu orang lain secara tepat dan
cermat. Pola dan ragam bencana alam yang
dihadapi juga berbeda-beda karena setiap
daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula. Maka, kurikulum bencana
harus mengakomodasi kearifan
lokal yang ada, sebagai
upaya memberikan pendidikan
yang tepat untuk menghadapi sekaligus menangani bencana. Kurikulum berbasis
kearifan lokal akan menjelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam
dan lingkungan budaya yang ada di sekitarnya.
Pendidikan
Mitigasi Bencana di Sulawesi Tengah dinilai sudah seharusnya digalakkan di
lokasi yang kerap terjadi bencana alam gempa bumi, yang dipicu oleh pergerakan
aktif sesar atau patahan Palu Koro. Di
sisi yang lain, kebijakan lokal masyarakat Sulawesi Tengah dapat menjadi
masukan bagi pihak berwenang dalam penyusunan kembali tata ruang pasca bencana
gempa bumi dan tsunami. sudah saatnya mitigasi bencana masuk dalam kurikulum SD
dan SMP untuk mengajarkan anak-anak sejak dini mengenai urgensi mitigasi
bencana sesuai dengan karakteristik geologi di masing masing daerah. “Contohnya
di Palu. Kita semua sudah tahu, komunitas kita sudah tahu bahwa ada sesar Palu
Koro yang rawan sekali. Jadi kita mengharapkan mulai anak SD, sudah diajari,
ini lho. Bukan untuk nakut-nakutin tapi bagaimana kita bisa hidup berdampingan
harmonis dengan keadaan di sekeliling kita,”
Kegiatan mitigasi
bencana hendaknya merupakan yang
bersifat rutin dan berkelanjutan (sustainable
disaster mitigation). Kegiatan
mitigasi seharusnya sudah dilakukan
dalam periode jauh-jauh hari
seebelum kejadian bencana, yang
seringkali datang lebih
cepat dari waktu-waktu yang diperkirakan, dan bahkan
memiliki intensitas yang lebih besar dari yang diperkirakan semula. Selain
itu pemerintah kota palu
hendaknya juga aktif memberikan
berbagai arahan yang
tepat dan berkesinambungan dalam
memghadapi peristiwa bencana atau
dengan kata lain
bisa beradaptasi dengan resiko
potensi bencana alam yang ada.
Dalam konteks pengurangan risiko bencana, mitigasi bencana
juga dipahami sebagai upaya
meningkatkan kapasitas masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana untuk
menghilangkan atau mengurangi akibat
dari ancaman dan tingkat bencana.
Sektor
pendidikaan merupakan penentu dalam pengurangan
risiko bencana. Karena itu
diperlukan upaya konkret
Pada tahun 2011 Kementerian Pendidikan Nasional telah mulai
menerapkan kurikulum bencana mulai
jenjang pendidikan SD
hingga SMA. Namun pada
praktiknya tidak dimasukkan langsung jadi
mata pelajaran atau
kurikulum khusus bencana, tetapi
dimasukkan ke dalam mata pelajaran secara faktual dalam
memahami dan mengantisipasi kondisi
alam secara terpadu. Salah satu
wujudnya, melalui upaya pengurangan risiko
bencana yang berbasis komunitas, dan pendidikan
sebagai salah satu sarana
yang efektif untuk
mengurangi risiko bencana dengan
memasukkan materi pelajaran tentang
bencana alam sebagai
pelajaran wajib bagi setiap siswa
di semua tingkatan, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah risiko
bencana.
Pendidikan kebencanaan
dapat disisipkan pada mata
pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, Agama
atau juga mata
pelajaran yang lain. Pendidikan kebencanaan ini memiliki tujuan umum
untuk memberikan gambaran dan acuan dalam proses pembelajaran siaga bencana.
Guru dan kepala sekolah mendapat pendidikan dan
pelatihan untuk dapat
menerapkan pendidikan dan keterampilan
siaga bencana. Melalui pendidikan
ini diharapkan siswa mampu berpikir dan bertindak cepat,
tepat, dan akurat saat menghadapi bencana. Sikap empati terhadap korban
bencana juga dibangun
agar siswa dapat membantu
orang lain. Pendidikan yang diberikan
tidak mencakup bencana sosial seperti
kerusuhan dan tawuran.
Hanya seputar bencana alam
saja. Edukasi bencana dapat
dilaksanakan dengan tiga
cara. Apabila kebutuhan sekolah hanya
sekadar pengetahuan saja, maka bahan ajar akan berintegrasi dengan mata pelajaran bisa masuk
dalam pelajaran pengetahuan alam.
Jika kebutuhan dirasa perlu mencakup pelatihan, maka dapat dimuat dalam muatan
lokal dan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH).
Pelaksanaan pendidikan dapat pula
meluas hingga kegiatan ekstrakurikuler.
Berkaitan dengan
kurikulum pendidikan kebencanaan
berbasis kearifan lokal, Indonesia
memerlukan kurikulum yang
mengajarkan local wisdom atau
kearifan lokal suatu
daerah agar masyarakatnya tangguh
menghadapi bencana.17Ketangguhan
masyarakat dalam menghadapi bencana itu
diperoleh dari pemahaman secara menyeluruh tentang
kearifan di daerahnya. ketangguhan masyarakat
dalam menghadapi bencana itu
diperoleh dari pemahaman secara menyeluruh tentang
kearifan di daerahnya. Sehingga dalam
konteks mitigasi pengurangan risiko bencana,
adanya kurikulum berbasis kearifan lokal akan dapat
menjelaskan tentang hubungan manusia
dengan alam dan budayanya. Karena masyarakat yang
tangguh terhadap bencana adalah
masyarakat yang toleran terhadap alamnya
dan memahami alam
yang ditempatinya Selain itu, partisipasi masyarakat untuk mengurangi
dan menghindari risiko bencana penting
dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran
dan kapasitas masyarakat.
Pentingnya kurikulum kebencanaan adalah bagaimana siswa dapat terlibat langsung
dalam penanganan bencana. Upaya ini sebaiknya dilakukan sejak dini melalui
pendidikan formal mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi, yaitu dengan menyiapkan
kurikulum berdasarkan konsep dan
pelaksanaannya, maupun kurikulum berdasarkan
struktur dan materi
pelajarannya. Kurikulum bencana harus
mengakomodasi kearifan lokal yang ada karena hampir seluruh wilayah Indonesia yang rawan bencana,
sebagai upaya memberikan pendidikan
yang tepat tentang menghadapi
sekaligus menangani bencana.
Sumber :
Keputusan Menteri Dalam
Negeri Nomor 131 Tahun
2003 Tentang Pedoman Penanggulangan Bencana
Dan Penanganan Pengungsi di
Daerah.
Khaerudin. 2009.
Pengembangan Kurikulum Berbasis Lokal Berwawasan Global.
|
Keren, tulisannya memberi wawasan
ReplyDeleteSukses
ReplyDelete